BERKUMPUL PADA HARI
ARAFAH SETELAH ASHAR DI MESJID-MESJID PELOSOK NEGERI UNTUK BERDZIKIR DAN
BERDO'A
YANG DI KENAL DENGAN
ISTILAH: AT-TA’RIIF (التَّعْرِيْف)
*****
DITULIS OLEH ABU HAITSAM
FAKHRY
KAJIAN NIDA AS-ISLAM - KARAWANG 14 NOV 2020
---
DAFTAR ISI :
- RINGKASAN PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA SALAF DAN KHOLAF:
- SIAPAKAH ORANG PERTAMA YANG MEMULAI AT-TA’RIIF?
- MACAM-MACAM AT-TA’RIIF:
- PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA SALAF DAN KHALAF TENTANG TA'RIF
- Kelompok pertama: menganjurkannya dan mengamalkannya
- Kelompok kedua: menganjurkannya tapi
tidak mengamalkannya
- Kelompok ke tiga: diam dan membiarkannya
- Kelompok ke empat: memakruhkannya
- TANGGAPAN SYEIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYAH TENTANG AT-TA’RIIF:
- DALIL-DALIL KEUTAMAAN HARI ARAFAH :
- DALIL DAN ARGUMENTASI BAGI YANG MENGHUKUMI MAKRUH ATAU BID’AH AT-TA’RIIF:
- PERNYATAAN PARA ULAMA TENTANG KAIDAH MASALAH INI
====
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
====***===
RINGKASAN PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA SALAF DAN KHOLAF:
******
DEFINISI “AT-TA’RIIF (التَّعْرِيْف)":
هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَالْأَمْصَارِ
بَعْدَ عَصْرِ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَالْأُخْذُ فِي الدُّعَاءِ وَالثَّنَاءِ
وَالذِّكْرِ وَالضِّرَاعَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ،
كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ عَرَفَةَ بِمَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ. [ اقْرَأ: ٱلْمَوْسُوعَةُ
ٱلْفِقْهِيَّةُ ٱلْكُوَيْتِيَّةُ (45/335) ]
At-Ta’riif adalah
orang-orang berkumpul di mesjid-mesjid pelosok negeri dan di daerah-daerah
setelah Ashar pada hari Arafah, dalam rangka untuk berdoa, memuji, berdzikir
dan bermunajat kepada Allah swt hingga matahari terbenam, seperti yang
dilakukan oleh orang-orang hajian yang wukuf di padang Arafah di Makkah
al-Mukarromah.
****
SIAPAKAH ORANG PERTAMA YANG MEMULAI AT-TA’RIIF?
Orang yang memulai
melakukan At-Ta’rif adalah sbb:
Pertama : Di Bashrah adalah Abdullah bin Abbas
radhiyallahu ‘anhu.
Kedua : Sementara di Kuufah adalah ‘Amr bin Huraits
radhiyallahu ‘anhu. Dan ada yang mengatakan: Mush’ab bin az-Zubair.
(Baca: “As-Sunan al-Kubra” karya al-Baihaqi 5/188, “Siyar
A‘lam an-Nubala’” 3/351 karya ad-Dzahabi pada biografi Ibnu Abbas dan lihat
pula “Al-Ba‘its ‘ala Inkar al-Bida‘ wal-Hawadits” karya Abu Syaamah halaman 31,
dan “Al-Bida‘ al-Hauliyyah” karya Abdullah at-Tuwaijiry halaman 363.)
===
PERTAMA: IBNU ABBAS DI BASHRAH:
Para ulama mengatakan:
فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِالْبَصْرَةِ
حِينَ كَانَ خَلِيفَةً لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
Yang pertama kali melakukannya adalah Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu di Bashrah pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
[Lihat: “Iqtidha’ ash-Shirat al-Mustaqim” karya Ibnu Taimiyah
2/151 dan “Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah” 12/252]Abd al-Razzaq meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (4/376), Ibnu al-Ja’ad di
“al-Musnad” (279) dan (987), dan Ibnu Abi Shaybah di “al-Musannaf” (19/600),
dengan SANAD YANG SHAHIH ke al-Hasan al-Bashri berkata:
(أَوَّلُ مَنْ صَنَعَ ذَاكَ ابْنُ عَبَّاسٍ، يَعْنِي: اجْتِمَاعَ
النَّاسِ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي الْمَسَاجِدِ)، وَفِي لَفْظِ: (أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ
بِالْبَصْرَةِ ابْنُ عَبَّاسٍ)
Artinya: (Orang Yang pertama kali melakukannya adalah Ibnu Abbaas, artinya Orang-orang berkumpul pada hari Arafah di masjid.) Dan dalam lafadz lain: Yang pertama kali melakukan at-Ta’rif di Basrah adalah Ibnu Abbas)
Dan Abd al-Razzaq meriwayatkan di “al-Musannaf” (4/377), dan Ibnu Sa'ad di
“ath-Thabaqat al-Kubra” 2/367) dengan SANAD YANG SHAHIH ke al-Hasan al-Bashri yang
berkata:
(أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ بِأَرْضِنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، كَانَ يَتَّعِدُ
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ الْبَقَرَةَ يُفَسِّرُهَا آيَةً آيَةً)
(Orang pertama yang
melakukan at-Ta’rif di bumi kami adalah Ibnu Abbas, biasanya dilakukan pada
waktu sore hari Arafah, maka dia membaca Al-Qur'an, surat al-Baqarah,
menafsirkannya ayat demi ayat),
Dan Abu ‘Aroubah Al-Harraani meriwayatkan dalam “الأوائل” (hal. 138) di
bawah judul: “Orang pertama yang melakukan at-Ta’rif di temapt selain Mekah”
dengan DENGAN SANAD YANG SAHIH kepada Muhammad bin Sirin berkata:
(أوَّلُ مَنْ عَرَّفَ هَا هُنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، رَحْمَةُ اللَّهِ
عَلَيْهِ)
(Yang pertama melakukan
at-Tarif di sini adalah Ibnu Abbas, semoga Allah merahmati beliau).
===
KEDUA : ‘AMR BIN HURAITS radhiyallahu ‘anhu DI KUUFAH:
Ibnu Abi Shaybah
meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (8/419) dengan SANAD YANG SHAHIH kepada
Musa bin Abi Aisyah, yang berkata:
(رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ حَرِيثٍ يَخْطُبُ
يَوْمَ عَرَفَةَ، وَقَدْ اجْتَمَعَ النَّاسُ إلَيْهِ)
(Aku melihat Amr bin
Huraith berkhotbah pada hari Arafah, dan orang-orang berkumpul kepadanya)
Yakni, berkumpul di mesjid di daerahnya.
Dan dalam kitab: “مَسَائِلُ الإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ“, riwayat Ishaq bin Ibrahim bin Hani
al-Naisaabuuri (1/94):
وسُئِلَ عَنِ التَّعْرِيْف فِي الْقُرَى؟ فَقَالَ: قَدْ فَعَلَهُ
ابْنُ عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ، وَفَعَلَهُ عَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ بِالْكُوفَةِ.
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَلَمْ أَفْعَلْهُ أَنَا قَطُّ، وَهُوَ دُعَاءٌ،
دَعْهُمْ، يُكَثِّرُ النَّاسُ، قِيلَ لَهُ: فَنَرَى أَنْ يُنْهَوْا؟ قَالَ: لَا،
دَعْهُمْ، لَا يُنْهَوْنَ، وَقَالَ مُبَارَكٌ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ، وَابْنَ
سِيرِينَ، وَنَاسًا يَفْعَلُونَهُ، سَأَلْتُهُ عَنِ التَّعْرِيْف فِي
الْأَمْصَارِ؟ قَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ.
Artinya: “ Beliau – Imam
Ahmad - ditanya tentang at-Ta’riif di desa-desa?
Dia berkata: “Ibnu Abbas melakukannya di Basrah, dan Amr bin
Huraits melakukannya di Kufah, "
Abu Abdullah – yakni Imam Ahmad - berkata: Saya tidak
pernah melakukannya, dan itu adalah berdoa, biarlah mereka memperbanyak
oarang-orang – untuk melakukannya -.
Dan dikatakan pada nya: “Lalu apakah kita melarang mereka?
Dia berkata: "Tidak, biarkanlah, mereka jangan di
larang“.
Dan Mubarak berkata: Saya melihat al-Hassan, Ibnu Siiriin,
dan orang-orang melakukannya, saya bertanya kepadanya tentang at-Ta’riif di
daerah-daerah? Dia berkata: “Tidak ada yang salah dengan itu“)
Dan dalam kitab “طَبَقَاتُ الحَنَابِلَةِ” (1/39) dalam biografi Abu Thalib Ahmad bin Humaid: (Abu Thalib
berkata:
"قَالَ أَحْمَدُ: وَالتَّعْرِيْف عَشِيَّةَ عَرَفَةَ فِي
الْأَمْصَارِ لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ دُعَاءٌ وَذِكْرُ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ، وَأَوَّلُ مَنْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ،
وَفَعَلَهُ إِبْرَاهِيمُ."
“Imam Ahmad berkata:
At-Ta’riif pada waktu sore di hari Arafah di daerah-daerah, itu tidak lah
mengapa, itu hanya doa dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dan orang yang
pertama melakukannya adalah Ibnu Abbas dan ‘Amr Ibnu Huraits. Dan Ibrahim juga
melakukannya”)
Akan tetapi dalam kitab “البِدَعُ الحَوْلِيَّةُ” karya Abdullah at-Tuwaijiry hal. 363 di katakan:
"وَقِيلَ : إِنَّ أَوَّلَ مَنْ عَرَّفَ بِالْكُوفَةِ مُصْعَبُ
بْنُ الزُّبَيْرِ".
Ada yang mengatakan:
bahwa orang yang pertama kali melakukan amalan at-Ta’riif di Kuufah adalah
Mush’ab bin az-Zubair.
(Baca: “As-Sunan al-Kubra” karya al-Baihaqi 5/188, “Siyar
A‘lam an-Nubala’” 3/351 karya adz-Dzahabi pada biografi Ibnu Abbas, dan lihat
pula “Al-Ba‘its ‘ala Inkar al-Bida‘ wal-Hawadits” karya Abu Syamah halaman 31)
===***===
MACAM-MACAM AT-TA’RIIF:
At-Ta’riif ini ada
beberapa macam, diantara nya:
===
Macam Pertama:
هُوَ مُشَابَهَةُ أَهْلِ عَرَفَةَ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ، كَالتَّجْرِيدِ
عَنِ الْمَخِيطِ وَكَشْفِ الرَّأْسِ وَالتَّلْبِيةِ وَالْوُقُوفِ وَنَحْوِ ذَلِكَ،
أَوْ تَخْصِيصِ بُقْعَةٍ بِعَيْنِهَا لِلتَّعْرِيفِ فِيهَا وَشَدِّ الرُّحَالِ
إِلَيْهَا، كَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، أَوْ عِنْدَ الْمَشَاهِدِ، أَوْ رَفْعِ
الْأَصْوَاتِ فِي الْمَسَاجِدِ بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْغِنَاءِ وَالرَّقْصِ
وَالتَّصْفِيقِ وَالصِّيَاحِ وَالتَّبَاكِيِ وَاخْتِلَاطِ الرِّجَالِ
بِالنِّسَاءِ، وَجَعْلِ جَمِيعِ ذَلِكَ مِنْ سُنَّةِ الْيَوْمِ وَشُعَائِرِ
الدِّينِ مُضَاهَاةً لأهل عرفة.
Artinya: Yaitu at-Ta’riif
mirip dengan orang-orang wukuf di Arafah dalam segala hal, seperti menanggalkan
pakaian yang berjahit, membuka penutup kepala, membaca Talbiyah, melakukan
wuquf dan sejenisnya, atau mengkhususkan tempat tertentu untuk ritual Ta’rif
dan bersusah payah utk menuju ke tempat tersebut (شَدِّ الرُّحَالِ), seperti ke Masjid Al-Aqsa, atau tempat-tempat yang
dikramatkan, atau mengeraskan suara di masjid dengan membaca doa, zikir,
nyanyian, tarian, tepuk tangan, nangis-nangis dan pencampuran laki dan
perempuan. Dan menjadikan semua ini adalah sunnah hari tersebut dan ritual
agama untuk menandingi orang-orang yang wuquf di padang Arafah
Para ulama berkata tentang at-Ta’riif macam ini:
"هذَا التَّعْرِيْف بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ، وَبِدْعَةٌ
شَنِيعَةٌ مُنْكَرَةٌ مَحْرُومَةٌ بِاتِّفَاقِ الْأُئِمَّةِ، وَيَنْبَغِي عَلَى
وُلاَةِ الْأَمْرِ مَنْعُهُ وَإِزَالَتُهُ."
Artinya: At-Ta’rif model
ini adalah sebuah kebatilan dan tidak berdasar, dan ini adalah bid’ah yang
mengerikan yang yang mungkar yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para
Ulama, dan bagi para penguasa harus mencegahnya dan menghapusnya.
Silahkan lihat referensinya !:
Lihat: Hashiyah Ibnu 'Abidin
(2/177), Kitab al-Hawadits wa al-Bida' (hal. 259-260) oleh al-Tharthushi,
al-Syarh al-Kabir li al-Dardir wa Hashiyat al-Dasuqi (1/309), al-Baa'its 'ala
Inkar al-Bida' wa al-Hawadith (hal. 110-115) oleh Abu Syamah, Hidayah al-Saalik
(hal. 1171) oleh Ibnu Jama'ah, Iqtidhoo' ash-Shirath al-Mustaqim
(2/151-153) oleh Ibnu Taymiyyah, dan Manar al-Sabil (1/155) oleh Ibnu Dhowyaan.
====
Macam At-Ta’rif yang kedua:
هُوَ قَصْدُ مَسَاجِدِ الْبَلَدِ بَعْدَ عَصْرِ يَوْمِ عَرَفَةَ
لِلدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْعِبَادَةِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ تَعَرُّضًا
لِنَفَحَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَاغْتِنَامًا لِفَضَائِلِ الْيَوْمِ.
Yaitu Pergi ke
masjid-masjid yang terdekat di daerah-daerah itu setelah Ashar pada hari Arafah
untuk berdoa, berdzikir dan beribadah sampai matahari terbenam, agar
mendapatkan sentuhan-sentuhan rahmat dari Allah SWT dan memperoleh keutamaan-keutamaan
hari Arafah.
===***===
PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA SALAF
DAN KHALAF TENTANG TA'RIF
At-Ta’rif
yang diperselisihkan adalah jenis yang kedua , Yaitu Pergi ke
masjid-masjid yang terdekat di daerah-daerah itu setelah Ashar pada hari Arafah
untuk berdoa, berdzikir dan beribadah sampai matahari terbenam, agar
mendapatkan sentuhan-sentuhan rahmat dari Allah SWT dan memperoleh
keutamaan-keutamaan hari Arafah.
Dalam hal ini para Ulama,
ada 4 kelompok:
Kelompok pertama: menganjurkannya dan
mengamalkannya
Kelompok kedua: menganjurkannya tapi
tidak mengamalkannya
Kelompok ke tiga: diam dan membiarkannya
Kelompok ke empat: memakruhkannya
Silahkan lihat referensinya “ٱلْمَوْسُوعَةُ ٱلْفِقْهِيَّةُ ٱلْكُوَيْتِيَّةُ (12/25)
****
KELOMPOK PERTAMA:
Para Ulama Yang Menganjurkan AT-TA’RIIF Serta Mengamalkannya
Diantara mereka adalah sbb :
1]. Abdullah bin Abbas, semoga Allah SWT meridhoi mereka
berdua
2]. Amr bin Huraits, semoga Allah SWT meridhoi dia
3]. Mush’ab bin az-Zubair
4]. Sa'id bin Al-Musayyib
5]. Bakr bin Abdullah Al-Muzani
6]. Hasan Al Bashri
7]. Muhammad bin Sirin
8]. Muhammad bin Wasi`
9]. Zubaid bin Al-Harits
10]. Tsabit bin Aslam al-Bannaani
11]. Goilan bin Jarir
12]. Ashhab bin Abdul Aziz
13]. Imam Ahmad bin Hanbal
15]. Yahya bin Ma'in dan lain-nya . Mereka berkata:
إِنَّهُ دُعَاءٌ وَخَيْرٌ، فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِالْبَصْرَةِ حِينَ كَانَ خَلِيفَةً لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَلَمْ يُنْكَرْ عَلَيْهِ، وَمَا يُفْعَلُ فِي عَهْدِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ غَيْرِ إِنْكَارٍ لَا يَكُونُ بِدْعَةً.
Ini adalah doa dan kebaikan, yang dilakukan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu di Basrah pada masa Kholifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan beliau tidak mengingkarinya, dan apa saja yang di lakukan pada masa Khulafaur Rosydiin tanpa ada yang menyangkalnya maka itu bukanlah bidah “.
16]. Dan ini adalah pendapat Madzhab Hanbali.
17]. Dan pendapat sebagian Madzhab Hanafi
18]. Dan pendapat sebagian Maliki
19]. Dan pendapat sebagian Syafi'i
20]. Dan ini pilihan Syeikh Abd al-Karim bin Abdullah bin Abd al-Rahman al-Khudloir, dari kalangan ulama kontemporer sekarang ini.
Ibnu Taimiyah mengatakan :
وَهَذَا الْقَوْلُ ثَابِتٌ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ، وَاخْتَارَهُ
جَمَاعَةٌ مِنْ أُئِمَّةِ السَّلَفِ، فَلَا يُنْكَرُ عَلَى مَنْ عَمِلَ
بِمُقْتَضَاهُ، لِأَنَّهُ مِمَّا يَسُوغُ فِيهِ الْاجْتِهَادُ، وَلَا شَكَّ أَنَّ
مَنْ جَعَلَهُ بِدْعَةً لَا يُلْحِقُهُ بِفَاحِشَاتِ الْبِدَعِ، بَلْ يُخَفِّفُ
أَمْرَهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى غَيْرِهِ.
Pendapat ini shahih
diamalkan oleh sebagian para Sahabat, dan dipilih oleh sekelompok ulama salaf,
sehingga tidak perlu diingkari bagi mereka yang mengamalkannya sesuai dengan
tuntutan sebuah ijtihad, karena masalah ini merupakan masalah yang layak untuk
ijtihad.
Tidak ada keraguan bahwa siapa pun yang menganggapnya ini
adalah bid'ah, maka tidak boleh mengkatagorikannya pada bid'ah yang sangat
parah, melainkan bid’ah yang sangat ringan di banding bid’ah-bid’ah lainnya.
(Baca: *Majmū‘
al-Fatāwā* karya Ibnu Taimiyah (1/281–282), dan *Qā‘idah Jalīlah fī at-Tawassul wa al-Wasīlah* karya Ibnu Taimiyah (hal.
222–223). Dan lihat pula: *al-Bā‘its
‘alā Inkār al-Bida‘ wa al-Ḥawādits* karya Abu Syaamah (hlm. 114–115).)
====
BERIKUT INI RINCIAN RIWAYAT BERSANAD DARI MEREKA:
1. ATSAR IBNU ABBAS
radhiyallahu ‘anhuma:
Abd al-Razzaq
meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (4/376), Ibnu al-Ja’ad di “al-Musnad” (279)
dan (987), dan Ibnu Abi Shaybah di “al-Musannaf” (19/600), dengan SANAD YANG
SHAHIH ke al-Hasan al-Basri berkata:
(أَوَّلُ مَنْ صَنَعَ ذَاكَ ابْنُ عَبَّاسٍ،
يَعْنِي: اجْتِمَاعَ النَّاسِ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي الْمَسَاجِدِ)، وَفِي لَفْظِ:
(أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ بِالْبَصْرَةِ ابْنُ عَبَّاسٍ)،
Artinya: (Orang Yang
pertama kali melakukannya adalah Ibnu Abbaas, artinya Orang-orang berkumpul
pada hari Arafah di masjid.) Dan dalam lafadz lain: (Yang pertama kali
melakukan at-Ta’rif di Basrah adalah Ibnu Abbas)Dan Abd al-Razzaq meriwayatkan
di “al-Musannaf” (4/377), dan Ibnu Sa'ad di “al-Tabaq al-Kubra”(2/367) dengan
SANAD YANG SHAHIH ke al-Hasan al-Bashri yang berkata:
(أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ بِأَرْضِنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، كَانَ يَتَعَدَّى
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ الْبَقَرَةَ يُفَسِّرُهَا آيَةً آيَةً)
(Orang pertama yang
melakukan at-Ta’rif di bumi kami adalah Ibnu Abbas, biasanya dilakukan pada
waktu sore hari Arafah, maka dia membaca Al-Qur'an, surat al-Baqarah,
menafsirkannya ayat demi ayat)
Dan Abu ‘Aroubah Al-Harraani meriwayatkan dalam “الأوائل” (hal. 138) di
bawah judul: “Orang pertama yang melakukan at-Ta’rif di temapt selain Mekah”
dengan DENGAN SANAD YANG SAHIH kepada Muhammad bin Sirin berkata:
(أَوَّلُ مَنْ عَرَّفَ هَا هُنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، رَحْمَةُ اللَّهِ
عَلَيْهِ)
(Yang pertama melakukan
at-Tarif di sini adalah Ibnu Abbas, semoga Allah merahmati beliau).
2. ATSAR ‘AMR BIN
HURAITS radhiyallahu ‘anhu DI KUUFAH:
Ibnu Abi Shaybah
meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (8/419) dengan SANAD YANG SHAHIH kepada
Musa bin Abi Aishah, yang berkata:
(رَأَيْتُ عَمْرو بْنَ حَرِيثٍ يَخْطُبُ
يَوْمَ عَرَفَةَ، وَقَدْ اجْتَمَعَ النَّاسُ إِلَيْهِ)
(Aku melihat Amr bin
Huraith berkhotbah pada hari Arafah, dan orang-orang berkumpul kepadanya)
Yakni, berkumpul di mesjid di daerahnya.
Dan dalam kitab: “مَسَائِلُ الإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ“, riwayat Ishaq bin Ibrahim bin Hani
al-Naisaabuuri (1/94):
وَسُئِلَ عَنِ التَّعْرِيْف فِي الْقُرَى؟ فَقَالَ: قَدْ فَعَلَهُ
ابْنُ عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ، وَفَعَلَهُ عَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ بِالْكُوفَةِ.
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَلَمْ أَفْعَلْهُ أَنَا قَطُّ، وَهُوَ
دُعَاءٌ، دَعْهُمْ، يُكَثِّرُ النَّاسُ، قِيلَ لَهُ: فَنَرَى أَنْ يُنْهَوْا؟
قَالَ: لَا، دَعْهُمْ، لَا يُنْهَوْنَ، وَقَالَ مُبَارَكٌ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ،
وَابْنَ سِيرِينَ، وَنَاسًا يَفْعَلُونَهُ، سَأَلْتُهُ عَنِ التَّعْرِيْف فِي
الْأَمْصَارِ؟ قَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ
Artinya: “ Beliau – Imam
Ahmad - ditanya tentang at-Ta’riif di desa-desa?
Dia berkata: “Ibnu Abbas melakukannya di Basrah, dan Amr bin Huraith
melakukannya di Kufah, "
Abu Abdullah – yakni Imam
Ahmad - berkata: Saya tidak pernah melakukannya, dan itu adalah berdoa, biarlah
mereka memperbanyak oarang-orang – untuk melakukannya -.
Dan dikatakan pada nya: “
Lalu apakah kita melarang mereka?
Dia berkata: Tidak,
biarkanlah, mereka jangan di larang “.
Dan Mubarak berkata: Saya
melihat al-Hassan, Ibnu Siiriin, dan orang-orang melakukannya, saya bertanya
kepadanya tentang at-Ta’riif di daerah-daerah? Dia berkata: “Tidak ada yang
salah dengan itu")
Dan dalam kitab “طَبَقَاتُ الحَنَابِلَةِ” (1/39) dalam biografi Abu Thalib Ahmad bin Humaid: (Abu Thalib
berkata:
" قَالَ أَحْمَدُ: وَالتَّعْرِيْف
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ فِي الْأَمْصَارِ لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ دُعَاءٌ
وَذِكْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَوَّلُ مَنْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ
وَعَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ، وَفَعَلَهُ إِبْرَاهِيمُ ".
“Imam Ahmad berkata:
At-Ta’riif pada waktu sore di hari Arafah di daerah-daerah, itu tidak lah
mengapa, itu hanya doa dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dan orang yang
pertama melakukannya adalah Ibnu Abbas dan ‘Amr Ibnu Huraits. Dan Ibrahim juga
melakukannya “)
3. MUSH’AB BIN
AZ-ZUBAIR:
Ibnu Asaakir dlm kitab “تَارِيخُ الدِّمَشْق” meriwayatkan
dari al-Hakam:
إِنَّ أَوَّلَ مَنْ عَرَّفَ بِالْكُوفَةِ مُصْعَبُ بْنُ الزُّبَيْرِ.
Seungguhnya orang yang
pertama kali melakukan amalan at-Ta’riif di Kuufah adalah Mush’ab bin
az-Zubair. (Lihat: *Mukhtashar Tarikh Dimasyq* karya Ibnu Mandzur 7/297.
Dan lihat juga: *as-Sunan al-Kubra* karya al-Baihaqi 5/188,
*Siyar A‘lam an-Nubala’* 3/351 karya ad-Dzahabi pada biografi Ibnu Abbas.
Dan lihat pula *al-Ba‘its ‘ala Inkār al-Bida‘ wal-Hawādits* karya Abu Syaamah
hal. 31, dan *al-Bida‘ al-Hauliyyah* karya Abdullah at-Tuwaijiry hal. 363.)
4. SA’IID IBNU AL-MUSAYYIB:
Ibnu Abi Shaybah meriwayatkan di al-Musannaf (8/419) dengan
SANAD YANG SHAHIH ke Abd al-Rahman Ibnu Harmalah:
أَنَّهُ رَأَى سَعِيدَ بْنَ المُسَيَّبِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ
مُسَنَّدًا ظَهْرَهُ إلَى الْمَقْصُورَةِ، وَيَسْتَقْبِلُ الشَّامَ حَتَّى
تَغْرُبَ الشَّمْسُ.
(bahwa Dia melihat Sa’iid
bin Al-Musayyib pada pada waktu sore Arafah, sambil menyandarkan punggungnya
pada tembok ruangan (المقصورة), dan wajahnya
menghadap Syam hingga matahari terbenam).
5. BAKR BIN
ABDULLAH AL-MUZANI ;
Di sebutkan oleh Imam
Ahmad seperti yang terdapat dlm kitab “” 1/67 karya Ibnu Abi Ya’la al-Farraa.
Dalam kitab “الدُّرُّ الْمَنْثُورُ” (1/555) karya Imam al-Suyuti di sebutkan:
أَخْرَجَ الْمَرْوَزِيُّ عَنْ مُبَارَكٍ قَالَ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ،
وَبَكْرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، وَثَابِتًا الْبَنَانِيَّ، وَمُحَمَّدَ بْنَ
وَاسِعٍ، وَغَيْلَانَ بْنَ جَرِيرٍ يَشْهَدُونَ عَرَفَةَ بِالْبَصْرَةِ.
(Al-Marwazi meriwayatkan
dari Mubarak, beliau berkata: Saya melihat Al-Hassan, Bakr bin Abdullah, Thabit
Al-Banani, Muhammad bin Wasi`, dan Ghaylan bin Jarir mereka menghadiri acara
Arafahan di Basrah)
6. AL-HASAN
AL-BASHRI:
Al-Bayhaqi meriwayatkan
di kitab “Al-Sunan Al-Kubra” (5/191) dengan SANAD YANG SHAHIH dari Abu ‘Awaanah
Al-Wadl-dlooh bin Abdullah Al-Yasykari yang berkata:
"رَأَيْتُ الْحَسَنَ الْبَصْرِيَّ
يَوْمَ عَرَفَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ جَلَسَ، فَدَعَا، وَذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ، فَاجْتَمَعَ النَّاسُ"، وَفِي رَوَايَةٍ: "رَأَيْتُ الْحَسَنَ
خَرَجَ يَوْمَ عَرَفَةَ مِنَ الْمَقْصُورَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَقَعَدَ،
فَعَرَّفَ".
(Aku melihat Al-Hasan
Al-Bashri duduk-duduk pada hari Arafah setelah Ashar, dan dia berdoa, dan dia
berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dan aku melihat orang-orang ikut
berkumpul), dan dalam satu riwayat: “ Pada hari Arafah, saya melihat Al-Hassan
meninggalkan bilik setelah Ashar, lalu dia duduk, dan dia melakukan at-Ta’rif “.
7. MUHAMMAD BIN
SIIRIIN
Ibnu Abi Shaybah
meriwayatkan dalam al-Musannaf (8/420) dengan SANAD YANG SHAHIH kepada Ibnu ‘Aun
yang berkata:
كَانُوا يَسْأَلُونَ مُحَمَّدًا عَنْ إِتْيَانِ الْمَسْجِدِ
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ: لَا أَعْلَمُ بِهِ بَأْسًا، فَكَانَ يَقْعُدُ فِي
مَنْزِلِهِ، فَكَانَ حَدِيثُهُ فِي تِلْكَ الْعَشِيَّةِ حَدِيثُهُ فِي سَائِرِ
الْأَيَّامِ.
(Mereka biasa bertanya
kepada Muhammad – bin Siiriin - tentang datang ke masjid pada waktu sore hari
Arafah, dan dia berkata: “ Setahu saya tidaklah mengapa “, sementara dia biasa
duduk di rumahnya, dan pembicaraannya pada sore itu sama seperti pembicaraannya
pada hari-hari yang lain).
8. MUHAMMAD BIN
WAASI’:
Di sebutkan oleh Imam
Ahmad seperti yang terdapat dlm kitab “” 1/67 & 217 karya Ibnu Abi Ya’la
al-Farraa.
Dalam kitab “الدُّرُّ
الْمَنْثُورُ” (1/555) karya Imam al-Suyuti di sebutkan:
أَخْرَجَ الْمَرْوَزِيُّ عَنْ مُبَارَكٍ قَالَ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ،
وَبَكْرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، وَثَابِتًا الْبَنَانِيَّ، وَمُحَمَّدَ بْنَ
وَاسِعٍ، وَغَيْلَانَ بْنَ جَرِيرٍ يَشْهَدُونَ عَرَفَةَ بِالْبَصْرَةِ.
(Al-Marwazi meriwayatkan
dari Mubarak, beliau berkata: Saya melihat Al-Hassan, Bakr bin Abdullah, Thabit
Al-Banani, Muhammad bin Wasi`, dan Ghaylan bin Jarir mereka menghadiri acara
Arafahan di Basrah)
9. ZUBAID BIN
HARITS:
Ibnu Abi Shaybah meriwayatkan
di al-Musannaf (8/420) dengan SANAD YANG SHAHIH bahwa dia berkata:
(مَا كُنَّا نُعَرِّفُ إِلَّا فِي
مَسَاجِدِنَا.)
(Dulu kami tidak lah
melakukan at-Tar’if kecuali di masjid-masjid kami)
(10) TSABIT BIN ASLAM AL-BANNAANI
(11) GILAN BIN JARIIR
Di sebutkan oleh Imam
Ahmad seperti yang terdapat dlm kitab “” 1/67 & 217 karya Ibnu Abi Ya’la
al-Farraa.
Dalam kitab “الدُّرُّ
الْمَنْثُورُ” (1/555) karya Imam al-Suyuthi di sebutkan:
أَخْرَجَ الْمَرْوَزِيُّ عَنْ مُبَارَكٍ قَالَ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ،
وَبَكْرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، وَثَابِتًا الْبَنَانِيَّ، وَمُحَمَّدَ بْنَ
وَاسِعٍ، وَغَيْلَانَ بْنَ جَرِيرٍ يَشْهَدُونَ عَرَفَةَ بِالْبَصْرَةِ.
(Al-Marwazi meriwayatkan
dari Mubarak, beliau berkata: Saya melihat Al-Hassan, Bakr bin Abdullah, Thabit
Al-Banani, Muhammad bin Wasi`, dan Ghaylan bin Jarir mereka menghadiri acara
Arafahan di Basrah)
(12) ASYHAB BIN
ABDUL AZIZ:
Dalam kitab “تَرْتِيبُ الْمَدَارِكِ” (3/268) karya
al-Qoodli Iyaadl:
(قَالَ سَحْنُونَ: حَضَرْنَا أَشْهَبَ يَوْمَ
عَرَفَةَ بِجَامِعِ مِصْرٍ، وَكَانَ مِنْ حَالِهِمْ إِقَامَتُهُمْ بِمَسْجِدِهِمْ
إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ، يَعْنِي: لِلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ
عَرَفَةَ بِهَا، وَكَانَ يُصَلِّي جَالِسًا، يَعْنِي: النَّافِلَةَ، وَفِي
جَانِبِهِ صَرَّةٌ يُعْطِي مِنْهَا السَّائِلُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا بِيَدِ سَائِلٍ
دِينَارٌ مِمَّا أَعْطَاهُ، فَذَكَرْتُهُ لَهُ، فَقَالَ لِي: وَمَا كُنَّا نُعْطِي
مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ).
(Sahnuun berkata: Kami
menghadiri AYHAB pada hari Arafah di Masjid Jami Mesir, dan itu sudah menjadi
kebiasaan mereka diam di masjid hingga matahari terbenam, Yakni: untuk berzikir
dan berdoa di dalamnya seperti yang dilakukan orang-orang di padang Arafah.
Dan dia sholatnya sambil duduk, yakni: shalat naafilah, dan
di sisinya ada bungkusan yang akan dia berikan kepada para pengemis, maka
tiba-tibu aku melihat di tangan seorang pengemis ada uang satu dinar, yang ia
dapatkan dari pemberiannya, dan aku tanyakan padanya, lalu dia berkata
kepadaku: “ Dan kami tidak memberikanya sejak pagi hari “.
Lihat pula: at-Taj wal-Ikilil 2/366, Syarh az-Zarqani ‘ala Mukhtasar Khalil
1/483 dan Lawami‘ ad-Durar 2/343.
13. ATSAR YAHYA BIN MA’IIN
(termasuk ulama salaf yang ber TA’RIIF)
Dalam “طَبَقَاتُ الحَنَابِلَةِ” (1/414) dalam
biografi Ya`qub bin Ibrahim al-Duuroqi:
قَالَ يَعْقُوبُ: رَأَيْتُ يَحْيَى بْنَ مُعِينٍ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ
فِي مَسْجِدِ الْجَامِعِ قَدْ حَضَرَ مَعَ النَّاسِ، وَرَأَيْتُهُ يَشْرَبُ مَاءً،
وَلَمْ يَكُنْ بِصَائِمٍ.
(Ya`qub berkata: Saya
melihat Yahya bin Ma’in pada sore hari Arafah di Masjid Al-Jami, dia hadir
bersama orang-orang, dan saya melihatnya minum air, dan dia tidak berpuasa)
Dan lihat juga: “المغني” karya Ibnu
Quddaamah 2/296
14. At-Ta’riif
adalah pendapat MADZHAB HANBALI:
Lihat refernsinya: al-Mughni
2/296, al-Furu‘ 3/216 karya Ibnu Muflih, al-Insaf 2/441 karya al-Mirdawi,
Kasyyaf al-Qina‘ 2/60 karya al-Buhuti, dan al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah
al-Kuwaitiyyah 45/335.
15. At-Ta’riif adalah pendapat Sebagian MADZHAB HANAFI
Lihat referensinya :
Hasyiyah Ibnu Abidin 2/177.
16. At-Ta’riif adalah
pendapat Sebagian MADZHAB MALIKI
Lihat: Asy-Syarh al-Kabir
lid-Dardir wa Hasyiyah ad-Disuqi 1/309.
17. At-Ta’riif adalah
pendapat Sebagian MADZHAB SYAFI’II
Lihat: Hasyiyah
asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj 4/108 dan Hasyiyah asy-Syabramalisi ‘ala
Nihayah al-Muhtaj 3/297.
Al-Imam an-Nawawi berkata dalam al-Majmu‘ 8/117 dan
al-Idhah halaman 294:
التَّعْرِيْف بِغَيْرِ عَرَفَاتٍ، وَهَذَا هُوَ الِاجْتِمَاعُ
الْمَعْرُوفُ فِي الْبِلَادَ، اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِيهِ، فَجَاءَ عَنْ
جَمَاعَةٍ اسْتَحَبَّابُهُ وَفِعْلُهُ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ
أَنَّهُ قَالَ: أَوَّلُ مَنْ صَنَعَ ذَلِكَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا.
(At-Ta’riif di selain
Arafat, dan ini adalah kempul-kumpul yang ma’ruf di negeri-negeri. Para ulama
berbeda pendapat tentang hal itu, dan ada sekelompok jemaah menganggpnya
mustahab dan melakukannya. Sungguh telah diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri
bahwa dia berkata: Yang pertama kali melakukan itu adalah Ibnu Abbas, semoga
Allah meridhoi mereka berdua.
18. Dan ini
pilihan Syeikh Abd al-Karim bin Abdullah bin Abd al-Rahman al-Khudloir, dari
kalangan ulama zaman sekarang ini.
Beliau menyatakan
pilihannya ini di beberapa kitab, diantaranya:
Di kitab Syarh al-Muwaththa’, Syarh Kitab at-Tajrid
ash-Sharih, Syarh Kitab al-Manasik min Zad al-Mustaqni‘, Syarh Mansk Syekh
al-Islam Ibnu Taimiyah, dan Syarh Kitab al-Hajj min Shahih Muslim.
*****
KELOMPOK KE DUA:
TIDAK MENGAMALKAN AT-TA’RIIF, TAPI MENGANJURKANNYA SERTA MENGATAKANNYA MUSTAHAB
Dalam kitab: “مَسَائِلُ الإِمَامِ
أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ“, riwayat Ishaq bin Ibrahim bin Hani al-Naisaabuuri (1/94) disebutkan:
"وَسُئِلَ عَنِ التَّعْرِيْف فِي
الْقُرَى؟ فَقَالَ: قَدْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ، وَفَعَلَهُ
عَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ بِالْكُوفَةِ.
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: وَلَمْ أَفْعَلْهُ أَنَا قَطُّ، وَهُوَ
دُعَاءٌ، دَعْهُمْ، يُكَثِّرُ النَّاسُ، قِيلَ لَهُ: فَنَرَى أَنْ يُنْهَوْا؟
قَالَ: لَا، دَعْهُمْ، لَا يُنْهَوْنَ، وَقَالَ مُبَارَكٌ: رَأَيْتُ الْحَسَنَ،
وَابْنَ سِيرِينَ، وَنَاسًا يَفْعَلُونَهُ، سَأَلْتُهُ عَنِ التَّعْرِيْف فِي
الْأَمْصَارِ؟ قَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ".
(Beliau – Imam
Ahmad - ditanya tentang at-Ta’riif di desa-desa?
Dia berkata: “Ibnu Abbas melakukannya di Basrah, dan Amr
bin Huraith melakukannya di Kufah "
Abu Abdullah – yakni Imam Ahmad - berkata: Saya tidak
pernah melakukannya, dan itu adalah berdoa, biarlah mereka memperbanyak
oarang-orang – untuk melakukannya -.
Dia ditanyakan kepada nya: “Lalu apakah kita melarang
mereka? Beliau jawab: Tidak, biarkanlah, mereka jangan di larang. Dan Mubarak
berkata: “Saya melihat al-Hassan, Ibnu Siiriin, dan orang-orang melakukannya“,
lalu saya bertanya kepada nya (tentang at-Ta’riif di daerah-daerah? Dia
berkata: “ Tidak ada yang salah dengan itu“.
Ibnu Quddamah berkata :
قال
القاضي: ولا بَأْسَ بالتَّعْرِيفِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بالأمْصارِ. وقال الأثْرَمُ:
سألتُ أبا عبدِ اللهِ عن التَّعْرِيفِ في الأمْصارِ، يَجْتَمِعُونَ في المساجِدِ يَوْمَ
عَرَفَةَ، قال: أرْجُو أن لا يكونَ به بَأْسٌ، قد فَعَلَهُ غيرُ وَاحِدٍ. ورَوَى الأَثْرَمُ،
عن الحسنِ، قال: أَوَّلُ من عَرَّفَ بالبَصْرَةِ ابنُ عَبَّاسٍ، رَحِمَهُ اللهُ. وقال
أحمدُ: أَوَّلُ من فَعَلَهُ ابنُ عَبَّاسٍ وعَمْرُو بن حُرَيْثٍ. وقال: الحسنُ، وبكرٌ،
ومحمدُ بنُ وَاسِعٍ كانوا يَشْهَدُونَ المسجدَ يَوْمَ عَرَفَةَ. قال أحمدُ: لا
بَأْسَ به، إنَّما هو دُعَاءٌ وذِكْرٌ للهِ. فقيل له: تَفْعَلُه أنتَ؟ قال: أمَّا أنا
فلا. ورُوِىَ عن يحيى بن مَعِينٍ أنَّه حَضَرَ مع النَّاسِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ
Al-Qadhi berkata: Tidak mengapa melakukan ta’rif pada sore
hari Arafah di berbagai negeri.
Al-Atsram berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam
Ahmad) tentang ta’rif di berbagai negeri, yaitu mereka berkumpul di
masjid-masjid pada hari Arafah.
Ia berkata: Aku berharap tidaklah mengapa, karena hal itu
pernah dilakukan oleh lebih dari satu orang.
Al-Atsram meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa orang pertama
yang melakukan ta’rif di Bashrah adalah Ibnu Abbas, rahimahullah.
Ahmad berkata: Orang pertama yang melakukannya adalah Ibnu
Abbas dan Amru bin Huraith (Abu Sa’id al-Makhzumi al-Kufi, seorang sahabat).
Ia juga berkata: Al-Hasan al-Bashri, dan Bakar bin Abdullah
bin Amr al-Muzani al-Bashri, dan Muhammad bin Wasi’ al-Azdi (ahli ibadah dari
Bashrah) mereka menghadiri masjid pada hari Arafah.
Ahmad berkata: Tidak mengapa dengan hal itu, karena itu
hanya doa dan zikir kepada Allah. Lalu dikatakan kepadanya: Apakah engkau
melakukannya? Ia menjawab: Adapun aku, tidak.
Dan diriwayatkan dari Yahya bin Ma’in bahwa ia pernah hadir
bersama orang-orang pada sore hari Arafah. [Baca : al-Mughni 3/295 Tahqiq
at-Turki).
Abu Shaamah mengatakan dalam kitab “al-Ba‘its ‘ala Inkar
al-Bida‘ wal-Hawadits” (hlm. 114-115):
وَعَلَى الْجُمْلَةِ: فَأَمْرُ التَّعْرِيْف قَرِيبٌ إلَّا إذَا
جَرَّ مَفْسَدَةً، كَمَا ذَكَرَهُ الطَّرْطُوشِيُّ فِي التَّعْرِيْف بِبَيْتِ
الْمَقْدِسِ.
(Dan kesimpulannya: Maka
perkara at-Ta’rif itu dekat – dengan sunnah - kecuali jika mengarah pada
mafsadah, seperti yang disebutkan Al-Tarthousyi tentang at-Ta’riif di Bait
Al-Maqdis).
Penulis katakan:
Kata-kata Abu Syaamah “kecuali jika mengarah pada
mafsadah, seperti yang disebutkan Al-Tarthousyi tentang at-Ta’riif di Bait
Al-Maqdis “, beliau meng isyarat kan kepada apa yang di katakan oleh Al-Tharthoushi
dalam kitab “الحَوَادِثُ
وَالْبِدَعُ” (hlm. 259-260):
وَقَدْ كُنْتُ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ عَرَفَةَ،
حَشَرَ أَهْلُ السَّوَادِ وَكَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ، فَيَقِفُونَ فِي
الْمَسْجِدِ مُسْتَقْبِلِينَ الْقِبْلَةَ مُرْتَفِعَةً أَصْوَاتُهُمْ
بِالدُّعَاءِ، كَأَنَّهُ مَوْطِنُ عَرَفَةَ، وَكُنْتُ أَسْمَعُ هُنَاكَ سَمَاعًا
فَاشِيًا مِنْهُمْ أَنَّ مَنْ وَقَفَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ أَرْبَعَ وَقَفَاتٍ، فَإِنَّهَا
تَعْدِلُ حَجَّةً، ثُمَّ يَجْعَلُونَهُ ذَرِيعَةً إِلَى إِسْقَاطِ فَرِيضَةِ
الْحَجِّ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ الْحَرَامِ.
“ Dan sungguh saya pernah
berada di Baitul Maqdis, Jika datang hari Arafah, para penduduk Ahlus Sawaad
dan banyak orang di negeri itu berdesakan bersama-sama, dan mereka berdiri di
masjid, menghadap ke arah qiblat, sambil berdoa dengan mengeraskan suara,
seolah-olah itu adalah padang Arafah, dan saya mendengar di sana ada salah
seorang dari mereka yang menyebarkan ucapan:
“Siapa pun yang berdiri - seperti ini - di Baitul Maqdis
empat kali, maka itu setara dengan ibadah Haji“. Maka dengan demikian mereka
telah menjadikannya sebagai sebab hilangnya kewajiban beribadah haji ke
Baitullah al-Haram ”).
Lalu Abu Syaamah berkata dalam kitab “al-Ba‘its ‘ala Inkar
al-Bida‘ wal-Hawadits” (hlm. 114-115):
وَقَدْ قَالَ الأَثْرَمُ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ عَنْ التَّعْرِيْف
فِي الأَمْصَارِ يَجْتَمِعُونَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَقَالَ: أَرْجُو أَنْ لَا يَكُونَ
بِهِ بَأْسٌ، قَدْ فَعَلَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ، الْحَسَنُ، وَبَكْرٌ، وَثَابِتٌ،
وَمُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ، كَانُوا يَشْهَدُونَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ عَرَفَةَ.
وَفِي رَوَايَةٍ قَالَ أَحْمَدُ: لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ
دُعَاءٌ، وَذِكْرٌ لِلَّهِ، فَقِيلَ لَهُ: تَفْعَلُهُ أَنْتَ؟ قَالَ: أَمَّا أَنَا
فَلَا، ذَكَرَهُ الشَّيْخُ مُوَفَّقُ الدِّينِ فِي كِتَابِهِ
"المُغْنِي".
“ Al-Atsram
berkata: Saya bertanya kepada Ahmad Ibnu Hanbal tentang at-Ta’riif di
daerah-daerah, mereka kumpul-kumpul pada hari Arafah, maka dia berkata: Saya
harap tidak lah mengapa dengan itu. Sungguh Lebih dari satu orang yang
melakukannya, al-Hassan, Bakr, Tsabit, dan Muhammad Ibnu Waasi`, mereka biasa
mengahadiri masjid pada hari Arafah.
Dalam sebuah riwayat, Imam Ahmad berkata: “ Tidak ada
masalah dengan itu, itu hanyalah doa, dan dzikir kepada Allah”. Dan dikatakan
kepadanya: Apakah kamu melakukannya? Dia berkata: Adapun saya, tidak “. Syeikh
Muwafaq Al-Din menyebutkannya dalam kitabnya “Al-Mughni”.
Dan dalam kitab “طَبَقَاتُ الحَنَابِلَةِ” (1/39) dalam biografi Abu Thalib Ahmad bin Humaid:
قَالَ أَبُو طَالِبٍ: قَالَ أَحْمَدُ: وَالتَّعْرِيْف عَشِيَّةَ
عَرَفَةَ فِي الْأَمْصَارِ لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا هُوَ دُعَاءٌ وَذِكْرُ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَوَّلُ مَنْ فَعَلَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَمْرُو بْنُ
حَرِيثٍ، وَفَعَلَهُ إِبْرَاهِيمُ.
(Abu Thalib berkata: “
Imam Ahmad berkata: At-Ta’riif pada sore hari Arafah di daerah-daerah tidak ada
yang salah dengan itu, itu kan hanya doa dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla,
dan orang yang pertama melakukannya adalah Ibnu Abbas dan ‘Amr Ibnu Huraits.
Dan Ibrahim juga melakukannya “)
Dan dalam Biografi Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani
Al-Atsram (1/67):
قَالَ الأَثْرَمُ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَنْ التَّعْرِيْف
فِي الْأَمْصَارِ يَجْتَمِعُونَ فِي الْمَسَاجِدِ يَوْمَ عَرَفَةَ؟ قَالَ: أَرْجُو
أَنْ لَا يَكُونَ بِهِ بَأْسٌ، فَعَلَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ، قَالَ أَبُو عَبْدِ
اللَّهِ: الْحَسَنُ وَبَكْرٌ وَثَابِتٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ كَانُوا
يَشْهَدُونَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ عَرَفَةَ.
(Al-Atsram berkata: aku
bertanya pada Abu Abdullah – Imam Ahmad - tentang at-Ta’rif di daerah-daerah
dan mereka berkumpul di masjid-masjid pada hari Arafah? Abu Abdullah menjawab:
“ Al-Hassan, Bakr, Thabit, dan Muhammad Ibnu Wasi` menghadiri masjid pada hari
Arafah “)
Dalam biografi Abd al-Karim bin al-Haitsam al-‘Aaquuli
(1/217):
قَالَ: وَسَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَنِ التَّعْرِيْف بِهَذِهِ
الْقُرَى مِثْلَ جَرْجَرَايَ وَدِيرِ الْعَاقُولِ؟ فَقَالَ: قَدْ فَعَلَهُ ابْنُ
عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ، وَعَمْرُو بْنُ حَرِيثٍ بِالْكُوفَةِ، وَهُوَ دُعَاءٌ،
قِيلَ لَهُ: يُكَثِّرُ النَّاسُ! قَالَ: وَإِنْ كَثُرُوا، هُوَ دُعَاءٌ، وَخَيْرٌ،
وَقَدْ كَانَ يَفْعَلُهُ مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ، وَابْنُ سِيرِينَ، وَالْحَسَنُ،
وَذَكَرَ جَمَاعَةً مِنْ الْبَصْرِيِّينَ.
(Dia berkata: Saya
bertanya kepada Abu Abdullah – Imam Ahmad - tentang at-Ta’riif di desa-desa
ini, seperti desa Jarjari dan desa Deir al-Aqoul? Dia berkata: “ Ibnu Abbas
melakukannya di Basrah, dan Amr bin Huraith di Kufah, dan itu adalah berdoa. !
Dia diberitahu: Ada banyak orang! Dia berkata: Dan meskipun mereka bertambah
banyak jumlahnya, itu adalah doa, dan itu baik, dan Muhammad Ibnu Wasi`, Ibnu Sirin,
dan al-Hasan biasa melakukannya “, dan beliau menyebutkan sekelompok jemaah
orang-orang Basrah.
Dan dalam biografi Ya`qub Ibnu Ibrahim al-Duuroqi (1/414):
قَالَ يَعْقُوبُ الدَّوْرُقِيُّ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَنْ
الرَّجُلِ يَحْضُرُ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمَ عَرَفَةَ؟ قَالَ: لَا بَأْسَ أَنْ
يَحْضُرَ الْمَسْجِدَ، فَيَحْضُرَ دُعَاءَ الْمُسْلِمِينَ، قَدْ عَرَّفَ ابْنُ
عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ، فَلَا بَأْسَ أَنْ يَأْتِيَ الرَّجُلُ الْمَسْجِدَ،
فَيَحْضُرَ دُعَاءَ الْمُسْلِمِينَ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَرْحَمَهُ، إِنَّمَا
هُوَ دُعَاءٌ.
(Ya`qub al-Duuroqi
berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdullah – Imam Ahmad - tentang seorang pria
yang menghadiri masjid pada hari Arafah? Dia berkata: Tidak ada salahnya
menghadiri masjid, lalu dia menghadiri doa umat Islam, sungguh Ibnu Abbas
melakukan at-Ta’rif di Basrah, jadi tidak ada salahnya ada orang yang datang ke
masjid dan menghadiri doa umat Islam, Semoga Allah melimpahkan rahmatnya
kepadanya, itu kan hanya doa)
Dan Ibnu Taymiyyah berkata dalam kitab “مَسْأَلَةٌ فِي المَرَابَطَةِ بِالثُّغُورِ أَفْضَلُ أَمِ المُجَاوَرَةِ بِمَكَّةَ” (hal. 62):
(وَقَدْ قِيلَ عَنْهُ -أي: عَنِ الإِمَامِ أَحْمَدَ-: أَنَّهُ
يُسْتَحَبُّ)، وَعَلَّقَ الْمُرْدَاوِيُّ فِي الإِنْصَافِ (2/441) عَلَى ذَلِكَ
فَقَالَ: (وَهِيَ مِنَ الْمُفْرَدَاتِ).
(Dan pernah dikatakan
tentang at-Ta’riif - yakni dari Imam Ahmad -: bahwa itu adalah MUSTAHABB), dan
Al-Mardawi mengomentari dalam Al-Insaaf (2/441) tentang hal itu dan berkata:
(Ini adalah salah satu dari al-mufrodaat (fatwa-fatwa tunggal dari salah
seorang imam 4 madzhab atau lainnya ).
*****
KELOMPOK KE TIGA:
TIDAK MENGAMALKAN AT-TA’RIIF & DIAM, TIDAK MELARANGNYA ATAU MENGANJURKANNYA
Ada sebagian ulama yang
tidak mengamalkan amalan At-Ta’rif, namun demikian mereka mendiamkan
orang-orang yang mengamalkannya. Diantara nya adalah sbb:
(1) KHALIFAH UMAR BIN
ABDUL AZIZ
Ibnu ‘Asaakair
meriwayatkan dalam kitab تَارِيخُ
الدِّمَشْق (59 / 31-32) melalui jalur Muawiyah Ibnu al-Rayyan:
(أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَوْمَ
عَرَفَةَ لَمَّا صَلَّى الْعَصْرَ انْصَرَفَ إِلَى مَنْزِلِهِ، وَلَمْ يَقْعُدْ
لِلنَّاسِ، وَهُوَ إِذْ ذَاكَ خَلِيفَةٌ).
(Bahwa Umar Ibnu Abd al-Aziz pada hari Arafah ketika dia selesai sholat Ashar,
pergi ke rumahnya, dan tidak duduk untuk menemani orang-orang, dan pada saat
itu dia menjadi khalifah),
Dan Ibnu Asaakir meriwayatkannya juga dari jalur lain dari
dia, berkata:
(خَرَجْتُ مَعَ سَهْلِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى أَخِيهِ عُمَرَ
بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ حِينَ اسْتَخْلَفَ فَحْصُرٌ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ
عَرَفَةَ، صَلَّى عُمَرُ الْعَصْرَ، فَلَمَّا فَرَغَ انْصَرَفَ إِلَى مَنْزِلِهِ،
فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَّا إِلَى الْمَغْرِبِ).
(Saya pergi dengan Sahl
bin Abdul Aziz kepada saudaranya Umar bin Abdul Aziz ketika dia diangkat
sebagai Khalifah, dan ketika itu pada hari Arafah, dia shalat Ashar Umar, dan
ketika dia selesai, dia pergi ke rumahnya, dan dia tidak keluar kecuali hanya untuk
sholat Maghrib).
(2) ABU WAA’IL
SYAQIQ BIN SALAMAH:
Ibnu Wadh-dhooh
meriwayatkan dalam kitab “ما
جاء في البدع” (hal. 103) dengan ISNAAD YANG SHAHIH:
(أنه كَانَ لَا يَأْتِي الْمَسْجِدَ
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ)
(Bahwa dia – Abu Wa’il -
tidak mendatangi masjid pada waktu sore pada hari Arafah).
Dan juga Ibnu Abi Shaybah meriwayatkan di al-Musannaf
(8/419) dengan ISNAAD YANG SHAHIH kepada Al-A’mash, dia berkata:
(رَأَيْتُ أَبَا وَائِلٍ وَأَصْحَابَنَا يَجْلِسُونَ يَوْمَ
عَرَفَةَ، فَيَتَحَدَّثُونَ كَمَا كَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فِي سَائِرِ الْأَيَّامِ)
(Aku melihat Abu Wa’il
dan sahabat-sahabat kami duduk-duduk di hari Arafah. Mereka berbicara sama
seperti apa yang mereka bicarakan pada hari-hari lainnya.)
(3) IBRAHIM BIN
YAZIID AN-NAKHO’II
Abd al-Razzaq
meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (4 / 378-379) Dengan ISNAAD YANG SHAHIH:
(أَنَّهُ كَانَ يَرَى النَّاسَ يُعَرِّفُونَ
فِي الْمَسْجِدِ بِالْكُوفَةِ، فَلَا يُعَرِّفُ مَعَهُمْ.)
(Bahwa dia biasa melihat
orang-orang yang melakukan “ at-Ta’riif “ di masjid di Kufah, akan tetapi dia
tidak ikut “at-Ta’rif” dengan mereka).
(4) AL-LAITS BIN
SAAD:
Dan dalam kitab “الحَوَادِثُ وَالْبِدَعُ” (hlm. 259)
karya ath-Thorthousyi:
قَالَ الْحَارِثُ بْنُ مَسْكِينٍ: كُنْتُ أَرَى اللَّيْثَ بْنَ
سَعْدٍ يَنْصُرِفُ بَعْدَ الْعَصْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَلَا يَرْجِعُ إِلَى قُرْبِ
الْمَغْرِبِ.
(Al-Harith bin Maskin
berkata: Aku biasa melihat Al-Layth bin Saad pulang – dari masjid - setelah
sholat Ashar pada hari Arafah, maka dia tidak kembali – ke mesjid - kecuali
setelah mendekati waktu sholat maghrib)
Berbeda lagi dengan perkataan ATHOO BIN ABI ROBAAH:
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab
ayahnya “Al-Zuhd” (hal. 305), dan dari jalannya Abu Na`im di kitab “Hilyat
Al-Awliya{ (3/314) dengan ISNAD YANG SHAHIH kepada Umar bin Al-Ward berkata:
(قَالَ لِي عَطَاءٌ: إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَخْلُوَ بِنَفْسِكَ
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَافْعَلْ.).
(Athoo mengatakan kepada
saya: Jika Anda bisa menyendiri berkhalwat pada malam Arafah, maka lakukanlah).
Saya katakan: berarti menurut Athoo boleh berkhalwat dalam rangkah
ibadah di waktu sore hari Arafah.
*****
KELOMPOK KE EMPAT:
MEMAKRUHKAN AT-TA’RIIF DAN SEBAGIAN MEREKA MENGATAKANNYA BID’AH ATAU MUHDATS.
Diantara mereka adalah
sbb:
(1) ALI BIN ABI THALIB radhiyallahu
‘anhu
(2) PUTRA ALI radhiyallahu ‘anhu YANG BERNAMA:
MUHAMMAD BIN AL-HANAFIYYAH
Al-Bukhari meriwayatkan
dalam “at-Tarikh al-Kabiir” (2/301) dari Al-Hasan bin Athiyyah Al-Kufi dari
Isra’il, dari Ismail bin Salman Al-Azraq, dari Dinar Abu Umar, dari Ibnu Al-Hanafiyyah,
dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
(لا عَرَفَةَ إِلَّا بِعَرَفَاتٍ)
“ Tidak ada acara
arafahan kecuali di padang Arafah “.
Kemudian dia berkata: Telah mengatakan nya kepadaku
Al-Hasan bin ‘Athiyyah, dia mendengar dari Isra’il.
Sementara Imam Waqii’ berkata:
Dari Ismail al-Azraq dari Abu Umar dari Muhammad bin
al-Hanafiyyah yang mengatakan:
(لا عَرَفَةَ إِلَّا بِعَرَفَاتٍ)
“ Tidak ada acara
arafahan kecuali di padang Arafah “.
Dan riwayat Wakii' ini ada di “ Musannaf Ibnu Abi Shaybah”
(8/420) dari Ibnu al-Hanafiyyah dengan kata-kata:
(إِنَّمَا الْمَعْرِفُ بِمَكَّةَ.)
“ Sesungguhnya orang yang
ber Ta’rif itu hanya di Makkah “.
Akan tetapi perawi yang bernama Ismail al-Azraq ini dhoif.
Lihat kitab “تهذيب
التهذيب” (1 / 303-304).
(3) IBRAHIM BIN
YAZIID AN-NAKHO’II:
Ibnu Wadh-dhooh
meriwayatkan dalam kitab “ما
جاء في البدع” (hal. 102) dengan ISNAAD YANG SHAHIH kepada Ibnu ‘Aun yang
berkata:
(شَهِدْتُ إِبْرَاهِيمَ النَّخْعِيَّ سُئِلَ
عَنْ اجْتِمَاعِ النَّاسِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَكَرَّهُهُ، وَقَالَ: مُحْدَثٌ.)
(Saya menyaksikan Ibrahim
al-Nakha'i, yang ditanyai tentang berkumpulnya orang-orang pada waktu sore
petang hari Arafah, pemikirannya, dan dia berkata: itu perkara yang baru / مُحْدَثٌ)
Dan Ibnu Abi Shaybah meriwayatkan di al-Musannaf (8/420) dengan ISNAAD YANG
SHAHIH:
(أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ التَّعْرِيْف فَقَالَ: إِنَّمَا التَّعْرِيْف
بِمَكَّةَ)
(bahwa dia ditanya
tentang definisi dan berkata: Ini hanya definisi Mekah)
Lihat pula: Musnad Ibni al-Ja‘d halaman 278 dan Mushannaf
Ibni Abi Syaibah jilid 8 halaman 420.
(4) ‘AAMIR
(5) AL-HAKAM BIN UTAIBAH
AL-KINDY
(6) HAMMAD BIN ABI
SULAIMAAN:
Ibnu Abi Shaybah
meriwayatkan di kitab “al-Musannaf” (8/421) dengan ISNAAD YANG SHAHIH kepada
Jabir dari ‘Aamir dan al-Hakam mereka berkata:
(المُعَرَّف بِدْعَة)
(At-Ta’riif adalah
BID’AH). Dan lihat pula (8/420).
Ibnu al-Ja’ad meriwayatkan di kitab “al-Musnad” (277), Ibnu
Abi Shaybah di “al-Musannaf” (8/420), dan al-Bayhaqi di “al-Sunan al-Kubra”
(5/191) dengan ISNAD YANG SHAHIH dari Syu'bah yang mengatakan:
(سَأَلْتُ الْحُكَمَ وَحَمَّادًا عَنْ اجْتِمَاعِ النَّاسِ يَوْمَ
عَرَفَةَ فِي الْمَسَاجِدِ، فَقَالَا: هُوَ مُحْدَثٌ.)
“ Aku bertanya kepada
al-Hakam – bin Utaibah al-Kindy - dan Hammaad – bin Abi Sulaiman - tentang
berkumpulnnya orang-orang pada hari arafah di masjid-masjid, maka mereka berdua
berkata: itu adalah perkara yang baru / مُحدَث).
(7) NAFI’, MAULA
ABDULLAH BIN UMAR BIN AL-KHOTHTHOB:
Ibnu Wadh-dhooh
meriwayatkan dalam kitab “ما
جاء في البدع” (hal. 102) dengan ISNAAD YANG SHAHIH kepada Abu Hafs
Al-Madani, dia berkata:
(اجتَمَعَ النَّاسُ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي
مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُونَ بَعْدَ
الْعَصْرِ، فَخَرَجَ نَافِعُ مَوْلَى ابْنِ عُمَرَ مِنْ دَارِ آلِ عُمَرَ،
فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الَّذِي أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِدْعَةٌ،
وَلَيْسَتْ بِسُنَّةٍ، إِنَّا أَدْرَكْنَا النَّاسَ وَلَا يَصْنَعُونَ مِثْلَ
هَذَا، ثُمَّ رَجَعَ فَلَمْ يَجْلِسْ، ثُمَّ خَرَجَ الثَّانِيَةَ فَفَعَلَ
مِثْلَهَا، ثُمَّ رَجَعَ)
(Orang-orang berkumpul
pada hari Arafah di masjid Nabawi untuk berdoa setelah Ashar, maka Nafe’, Maula
Ibnu Umar (budak Ibnu Umar yang telah dibebaskan) keluar dari rumah keluarga
Umar, dan beliau berkata:
“Wahai manusia, sesungguhnya apa yang sedang kalian lakukan
adalah bid'ah, dan bukan Sunnah, sungguh kami telah menjumpai para sahabat dan
Mereka tidak ada yang melakukan sesuatu seperti ini", lalu dia pulang dan
tidak ikut duduk, lalu dia keluar yang kedua kalinya dan melakukan hal yang
sama, lalu dia pulang lagi).
(8) IMAM ABU
HANIIFAH
(9) MUHAMMAD BIN HASAN
ASY-SYAIBAANY:
Muhammad Ibnu al-Hasan
al-Shaybani berkata di kitab “الآثار” (1/339):
(أخبرنا أبو حنيفة، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ
إِبْرَاهِيمَ: أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَخْرُجُ يَوْمَ عَرَفَةَ مِنْ مَنْزِلِهِ،
وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: التَّعْرِيْف الَّذِي يُصْنَعُهُ النَّاسُ يَوْمَ
عَرَفَةَ مُحْدَثٌ، إِنَّمَا التَّعْرِيْف بِعَرَفَاتٍ، قَالَ مُحَمَّدٌ: وَبِهِ
نَأْخُذُ.).
(Abu Hanifa mengatakan
kepada kami, dari Hammad, dari Ibrahim: bahw Dia tidak keluar pada hari Arafah
dari rumahnya (ke masjid).
Dan Abu Hanifah berkata: At-Ta’rif yang lakukan orang-orang
pada hari Arafah itu adalah perkara yang diperbarui, tetapi kalau at-Ta’rif di
padang Arafah.
Muhammad asy-Syaibaani berkata: Dan kalau yang ini kami
mengambilnya (mengamalkannya) “.
Muhammad bin Hasan Asy-Syaibaani berkata dalam kitab “الجامع الصغير ” (hal. 115):
(وَالتَّعْرِيْف الَّذِي يَصْنَعُهُ النَّاسُ لَيْسَ بشَيْءٍ.)
(At-Ta’rif yang yang di
orang bukanlah apa-apa.)
Dan di kitabnya “الآثار” (1/339) dia menukil perkataan syeikhnya, Abu Hanifah: (أنه مُحدثٌ: bahwa
at-Ta’riif itu perkara baru. Lalu beliau berkata: “وبه نأخذ / Dan kalau yang ini kami mengambilnya (mengamalkannya) “.
(11) SUFYAN BIN
SA’IID ATS-TSAURY:
Ibnu Wadh-dhooh
meriwayatkan dalam kitab “ما
جاء في البدع” (hal. 102) dengan ISNAAD YANG SHAHIH, bahwa Sufyan ats-Tsaury
berkata:
(لَيْسَ عَرَفَةَ إِلاَّ بِمَكَّةَ، لَيْسَ
فِي هَذِهِ الأَمْصَارِ عَرَفَةٌ).
(Tidak ada Arafah kecuali
yang di Makkah, tidak ada di daerah-daerah sini Arafah).
(12) IMAM MALIK
BIN ANAS:
Dalam kitab “النوادر والزيادات” (1/531) karya
Ibnu Abi Zaid Al-Qayrawani: (Dari Al-Utbiyah, Ibnu Al-Qasim, dari Malik:
(وَأَكْرَهُ أَنْ يَجْلِسَ أَهْلُ الْآفَاقِ
يَوْمَ عَرَفَةَ فِي الْمَسَاجِدِ لِلدُّعَاءِ، وَمَنْ اجْتَمَعَ إِلَيْهِ
النَّاسُ يَوْمَئِذٍ، فَيُكَبِّرُونَ وَيَدْعُونَ، فَلْيَنْصَرِفْ عَنْهُمْ،
وَمَقَامُهُ فِي مَنْزِلِهِ أَحَبُّ إِلَيَّ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ رَجَعَ،
فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ.)،
“ Saya tidak suka
orang-orang dari mana-mana duduk-duduk di masjid pada hari Arafah untuk berdoa,
dan barang siapa menjumpai orang-orang yang berkumpul-kumpul di Masjid pada
hari itu, sambil bertakbir dan berdoa, maka tinggalkanlah mereka, dan dia
tinggal dirumahnya lebih aku sukai, lalu ketika datang waktu sholat, segera
kembali ke masjid lalu sholat di masjid “
Dan yang semisalnya terdapat di kitab “ al-Bayan wa
al-Tahseel” (1/274, 362-363, 376-377), (2/324), (17/121) karya Ibnu Rusyd.
Dan dalam kitab “الحَوَادِثُ وَالْبِدَعُ” (hlm. 257-258) karya ath-Thorthousyi di sebutkan:
(قَالَ ابْنُ وَهْبٍ: سَأَلْتُ مَالِكًا عَنْ الْجُلُوسِ يَوْمَ
عَرَفَةَ، يَجْلِسُ أَهْلُ الْبَلَدِ فِي مَسْجِدِهِمْ، وَيَدْعُو الْإِمَامُ
رِجَالًا يَدْعُونَ اللَّهَ تَعَالَى لِلنَّاسِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ؟ فَقَالَ:
مَا نَعْرِفُ هَذَا، وَإِنَّ النَّاسَ عِنْدَنَا الْيَوْمَ لِيَفْعَلُونَهُ، قَالَ
ابْنُ وَهْبٍ: وَسَمِعْتُ مَالِكًا يَسْأَلُ عَنْ جُلُوسِ النَّاسِ فِي
الْمَسْجِدِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ، وَاجْتِمَاعُهُمْ لِلدُّعَاءِ؟
فَقَالَ: لَيْسَ هَذَا مِنْ أَمْرِ النَّاسِ، وَإِنَّمَا مَفَاتِيحُ هَذِهِ
الْأَشْيَاءِ مِنَ الْبِدَعِ.. قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: وَلَقَدْ رَأَيْتُ
رِجَالًا مِمَّنْ أَقْتَدِي بِهِمْ يَتَخَلَّفُونَ فِي عَشِيَّةَ عَرَفَةَ فِي
بُيُوتِهِمْ، قَالَ: وَإِنَّمَا مَفَاتِيحُ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ مِنَ الْبِدَعِ،
وَلَا أُحِبُّ لِلرَّجُلِ الَّذِي قَدْ عَلِمَ أَنْ يَقْعُدَ فِي الْمَسْجِدِ فِي
تِلْكَ الْعَشِيَّةِ، مَخَافَةَ أَنْ يَقْتَدُوا بِهِ، وَلِيَقْعُدَ فِي
بَيْتِهِ.).
(Ibnu Wahab berkata: Saya
bertanya kepada Imam Malik tentang duduk-duduk pada hari Arafah, dan
orang-orang penduduk di sebuah daerah duduk di masjid mereka, dan imam pun
memanggil orang-orang agar datang untuk berdoa kepada Allah hingga matahari
terbenam?
Maka dia Imam Malik berkata: Kami tidak mengetahuinya, tapi
orang-orang melakukannya.
Ibnu Wahab berkata: Saya mendengar Imam Malik di tanya
tentang orang-orang yang duduk-duduk di masjid pada sore Arafah setelah Ashar,
dan mereka berkumpul untuk berdoa?
Maka dia menjawab: “ Ini bukan perkara yang di amalkan para
sahabat, dan sesungguhnya kunci-kunci dari perkara-perkara ini adalah Bid’ah “.
Malik bin Anas menjawab: Saya telah melihat orang-orang
yang dijadikan teladan oleh mereka, ternyata mereka pada malam Arafah tidak
ikut-ikutan dan mereka tinggal di rumah masing-masing.
Dan Imam Malik berkata: Dan sesungguhnya kunci-kinci dari
hal-hal ini adalah bid'ah, dan saya tidak suka orang yang mengerti ikut
duduk-duduk di masjid pada sore itu, karena takut mereka akan mengikutinya,
maka sebaiknya orang yang berilmu itu duduk di rumahnya).
Masih penyebutan nama para ulama yang memakruhkan at-Tariif
(13) MADZAHAB
HANAFI MEMAKRUHKAN AT-TA’RIF.
Lihat referensinya: Hasyiyah Ibni ‘Abidin 2/177 dan
Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 45/335.
(14) MADZAHAB MALIKI JUGA MEMAKRUHKAN AT-TA’RIF.
Lihat referensinya:
Kitab Al-Hawadits
wal-Bida‘ (halaman 257–258) karya Ath-Tharthusyi, At-Taj wal-Ikil li Mukhtashar
Khalil (jilid 2 halaman 366) karya Al-Mawwaq, dan Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah
Al-Kuwaitiyyah (jilid 45 halaman 335).
(15) MADZAHAB SYAFI’II
JUGA MEMAKRUHKAN AT-TA’RIF.
Lihat referensinya:
Al-Ba‘its li Inkar
al-Bida‘ wal-Hawadits (halaman 110–115) karya Abu Syamah, Al-Majmu‘ (jilid 8
halaman 117), dan Al-Idhah (halaman 294) karya An-Nawawi.
(16) FATWA SYEIKH ABDUL
AZIZ BIN BAAZ.
Lihat: Majmu‘ Fatawa
al-‘Allamah ‘Abd al-‘Aziz bin Baz jilid 17 halaman 2727–275.
(17) SYEIKH NAASHIRUDDIN
AL-BAANY.
Lihat kitabnya “حَجَّةُ النَّبِيِّ ﷺ كَمَا
رَوَاهَا جَابِرٌ “ hal. 128.
(18) SEIKH MUHAMMAD BIN
SHALEH AL-UTSAIMIIN.
Lihat kitabnya
“Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’” 5/171–172.
Asy-Syeikh Al-Tharthousyi
ulama Madzhab Maliki berkata dalam kitab “الحَوَادِثُ وَالْبِدَعُ”Al- (hlm. 259-260):
فَاعْلَمُوا رَحِمَكُمُ اللَّهُ أَنَّ هَؤُلَاءَ الْأُئِمَّةَ
عَلَّمُوا فَضْلَ الدُّعَاءِ يَوْمَ عَرَفَةَ، وَلَكِنْ عَلَّمُوا أَنَّ ذَلِكَ
بِمَوْطِنِ عَرَفَةَ لَا فِي غَيْرِهَا، وَلَا مَنَعُوا مَنْ خَلَا بِنَفْسِهِ
فَحَضَرَتْهُ نِيَّةٌ صَادِقَةٌ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ تَعَالَى، وَإِنَّمَا
كَرِهُوا الْحَوَادِثَ فِي الدِّينِ، وَأَنْ يَظُنَّ الْعَوَامُ أَنَّ مِنْ
سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ الِاجْتِمَاعُ بِسَائِرِ الْآفَاقِ وَالدُّعَاءِ،
فَيَتَدَاعَى الْأَمْرُ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ فِي الدِّينِ مَا لَيْسَ مِنْهُ.
وَقَدْ
كُنْتُ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ عَرَفَةَ، حَشَرَ أَهْلُ
السَّوَادِ وَكَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ، فَيَقُفُّونَ فِي الْمَسْجِدِ
مُسْتَقْبِلِينَ الْقِبْلَةَ مُرْتَفِعَةً أَصْوَاتُهُمْ بِالدُّعَاءِ، كَأَنَّهُ
مَوْطِنُ عَرَفَةَ، وَكُنْتُ أَسْمَعُ هُنَاكَ سَمَاعًا فَاشِيًا مِنْهُمْ أَنَّ
مَنْ وَقَفَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ أَرْبَعَ وَقْفَاتٍ، فَإِنَّهَا تُعَدُّلُ
حَجَّةً، ثُمَّ يَجْعَلُونَهُ ذَرِيعَةً إِلَى إِسْقَاطِ فَرِيضَةِ الْحَجِّ إِلَى
بَيْتِ اللَّهِ الْحَرَامِ.
(Maka kalian ketahuilah,
semoga Allah merahmati kalian, bahwa para imam ini tahu akan keutamaan doa pada
hari Arafah, tetapi mereka tahu bahwa itu adanya di padang Arafah dan bukan di
tempat lain.
Dan mereka tidak menghalangi bagi orang yang ingin
berkhalwat (ibadah menyendiri), yang timbul dari dirinya sendiri dengan niat
yang tulus untuk berdoa kepada Allah Ta’aala,
Akan tetapi sebaliknya, mereka tidak menyukai
perkara-perkara baru dalam agama, dan orang-orang awam mengira bahwa amalan
Sunnah apada hari arafah adalah berkumpulnya orang-orang dari segala penjuru
untuk berdoa,
Dan perkara ini bisa mengakibatkan: memasukkan ke dalam
agama perkara yang bukan bagian darinya.
Dan sungguh saya pernah berada di Baitul Maqdis, Jika
datang hari Arafah, para penduduk Ahlus Sawaad dan banyak orang di negeri
itu berdesakan bersama-sama, dan mereka berdiri di masjid, menghadap ke arah
qiblat, sambil berdoa dengan mengeraskan suara, seolah-olah itu adalah padang
Arafah, dan saya mendengar di sana ada salah seorang dari mereka yang
menyebarkan ucapan:
“Siapa pun yang berdiri - seperti itu - di Baitul Maqdis empat kali, maka
itu setara dengan ibadah Haji”, maka mereka menjadikannya sebagai sebab
hilangnya kewajiban beribadah haji ke Baitullah al-Haram)
*****
TANGGAPAN SYEIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYAH TENTANG AT-TA’RIIF:
Ibnu Taymiyyah berkata
dalam “Majmu’ Al-Fatawa” 1/281–282 dan “Qa’idah Jalilah fi At-Tawassul
wal-Wasilah” hal. 222–223.
(وَتَعْرِيفُ ابْنِ عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ،
وَعَمْرُو بْنُ حُرَيْثٍ بِالْكُوفَةِ، فَإِنَّ هَذَا لَمَّا لَمْ يَكُنْ مِمَّا
يَفْعَلُهُ سَائِرُ الصَّحَابَةِ، وَلَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرْعُهُ لِأُمَّتِهِ لَمْ يَمْكُنْ أَنْ يُقَالَ هَذَا
سُنَّةً مُسْتَحَبَّةً، بَلْ غَايَتُهُ أَنْ يُقَالَ: هَذَا مِمَّا سَاغَ فِيهِ
اجْتِهَادُ الصَّحَابَةِ، أَوْ مِمَّا لَا يُنْكَرُ عَلَى فَاعِلِهِ، لِأَنَّهُ
مِمَّا يَسُوغُ فِيهِ الاجْتِهَادُ، لَا أَنَّهُ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ سُنَّتُهُ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمَّتِهِ، أَوْ يُقَالُ فِي التَّعْرِيْف:
إِنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ أَحْيَانًا لِعَارِضٍ إِذَا لَمْ يَجْعَلْ سُنَّةً
رَاتِبَةً، وَهَكَذَا يَقُولُ أُئِمَّةُ الْعِلْمِ فِي هَذَا وَأَمْثَالُهُ:
تَارَةً يَكْرَهُونَهُ، وَتَارَةً يَسُوغُونَ فِيهِ الاجْتِهَادُ، وَتَارَةً
يُرْخَصُونَ فِيهِ إِذَا لَمْ يَتَّخِذْ سُنَّةً، وَلَا يَقُولُ عَالِمٌ
بِالسُّنَّةِ: إِنَّ هَذِهِ سُنَّةٌ مَشْرُوعَةٌ لِلْمُسْلِمِينَ، فَإِنَّ ذَلِكَ
إِنَّمَا يُقَالُ فِيمَا شَرَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، إِذْ لَيْسَ لِغَيْرِهِ أَنْ يَسُنَّ وَلَا يَشْرَعَ، وَمَا سَنَّهُ
خُلَفَاؤُهُ الرَّاشِدُونَ فَإِنَّمَا سَنُّوهُ بِأَمْرِهِ فَهُوَ مِنْ سُنَنِهِ،
وَلَا يَكُونُ فِي الدِّينِ وَاجِبًا إِلَّا مَا أَوْجَبَهُ، وَلَا حَرَامًا
إِلَّا مَا حَرَّمَهُ، وَلَا مُسْتَحَبًّا إِلَّا مَا اسْتَحَبَّهُ، وَلَا
مَكْرُوهًا إِلَّا مَا كَرِهَهُ، وَلَا مُبَاحًا إِلَّا مَا أَبَاحَهُ.).
(“ Dan at-Ta’riif Ibnu Abbas
di Basrah, dan Amr bin Huraith di Kufah, Dikarenakan ini bukan sesuatu yang
diamalkan oleh para sahabat lainnya, dan Nabiﷺ juga tidak mensyari’atkannya untuk umatnya, maka ini tidak bisa
dikatakan sebagai sunnah yang mustahabbah, melainkan maximalnya bisa dikatakan:
Ini adalah bagian dari masalah-masalah yang layak bagi para
sahabat untuk berijtihad, atau ini adalah suatu amalan yang pelakunya tidak
perlu diingkari, karena dibenarkan di dalamnya untuk Ijtihad, tapi ini bukan
sunnah yang mustahabbah yang disunnahkan oleh Nabiﷺ untuk ummatnya,
Atau dikatakan dalam “at-Ta’riif” ini:
Tidak ada salahnya bagi seseorang yang berkeinginan
mengamalkannnya selama tidak menjadikannya sebagai sunnah rawaatib (terus
menerus).
Dan demikian lah para ulama berkata tentang masalah ini dan
masalah-masalah yang semisalnya, terkadang mereka memakruhkannya, kadang mereka
membenarkan ijtihad di dalamnya, dan kadang mereka merukhshohkannya selama
tidak menjadikannya sebagai amalan Sunnah.
Seorang ulama yang faham Sunnah tidak akan mengatakan: Ini
adalah sunnah yang disyariatkan bagi umat Islam, karena yang demikian itu hanya
boleh dikatakan pada apa yang disyariatkan oleh Rasulullah ﷺ, karena selain beliau tidak ada orang yang
perkataan dan amalannya dijadikan Sunnah atau syariat.
Dan adapun sunnah Khulafaaur Rosyidin boleh dijadikan
sunnah dikarenakan ada perintah dari Nabi ﷺ, maka itu adalah bagian dari Sunnah-sunnahnya.
Dan tidak ada kewajiban dalam agama kecuali apa yang beliau
ﷺ wajibkan, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang beliau ﷺ haramkan, dan itu tidak ada yang mustahabb kecuali apa yang
beliau ﷺ mustahabb kan, dan tidak ada yang makruh kecuali apa yang
beliau ﷺ makruhkan, dan tidak ada yang mubah kecuali apa yang beliau
ﷺ mubahkan“)
Sementara Syaikh Sholih Al Munajjid menerangkan:
“Hal ini menunjukkan bahwa mereka menilai keutamaan hari
Arafah tidaklah khusus bagi orang yang berhaji saja. Walau memang
berkumpul-kumpul seperti ini untuk dzikir dan do’a pada hari Arafah tidaklah
pernah ada dasarnya dari Nabi ﷺ.
Oleh karena itu Imam Ahmad tidak melakukannya. Namun beliau
beri keringanan dan tidak melarang karena ada sebagian sahabat yang
melakukannya seperti Ibnu ‘Abbas dan ‘Amr bin Huraits radhiyallahu ‘anhum.”
===***===
DALIL-DALIL KEUTAMAAN HARI ARAFAH :
Hari Arafah adalah hari
yang istimewa, karena memiliki keutamaan sebagaimana disebutkan Ibnu Rajab Al
Hanbali seperti berikut ini:
1. Doa pada Hari Arofah
adalah doa yang paling terbaik dan mustajab:
Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu
Anhuma, Rosulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ
أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Do’a yang paling utama
adalah di hari Arafah. Dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku
baca pada hari itu adalah:
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Tiada Tuhan Yang berhak
disembah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan
dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu’.
(HR. At- Tirmidzi. no. 3585 dan dihasankan Al-Albani dalam
Shahih At-Tirmidzi (3/184); dan Al-Ahaadits Ash-Shahihah (4/6).
Ada satu riwayat dari Al-Imam Ahmad dari ‘Amr bin Syu’aib
dari Bapaknya dari Kakeknya:
كَانَ أَكْثَرَ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
“Kebanyakan doa
Rasulullah ﷺ di hari Arafah adalah: Laa ilaaha illallah
(Tidak ada yang berhak disembah selain Allah).”
Al-Husain bin Al-Hasan Al-Marudzi rahimahullah berkata,
سَأَلْتُ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ عَنْ أَفْضَلِ الدُّعَاءِ يَوْمَ
عَرَفَةَ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
“Aku bertanya kepada
Sufyan bin ‘Uyainah tentang doa yang paling afdhal di hari Arafah. Beliau
berkata: Laa ilaaha illallah (Tidak ada yang berhak disembah selain Allah).”
[Mir’atul Mafatih, 9/140]
2. Mengampuni
dosa dua tahun
Puasa pada Hari Arafah akan mengampuni dosa dua tahun.
Dalam riwayat dari Abu Qotadah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ
السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ
عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Artinya: "Puasa
Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun
akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang
lalu." (HR Muslim Nomor 1162)
3. Pengampunan
dosa.
Hari Arafah merupakan hari pengampunan dosa dan pembebasan
dari siksa neraka. Dalam riwayat dari Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا
مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ
الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
Artinya: "Di antara
hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah Hari Arafah.
Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka kepada para
malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR
Muslim Nomor 1348)
Allah pun begitu bangga dengan orang yang sedang melakukan
wukuf di Arafah.
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata bahwa Nabi
Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ
عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً
غُبْراً
Artinya:
"Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah
dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: 'Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka
mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu." (HR Ahmad 2: 224. Syekh
Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya tidaklah mengapa)
===***===
DALIL DAN ARGUMENTASI
BAGI YANG MENGHUKUMI MAKRUH ATAU BID’AH AT-TA’RIIF:
====
DALIL PERTAMA:
Bahwa Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhu sama sekali tidak bermaksud membikin bikin amalan AT-TA’RIIF
dan juga tidak bermaksud mengajak orang-orang untuk mengamalkannya. Berikut ini
asal usul dan asal muasal terjadinya tradisi At-Ta’riif :
Abu Shama berkata dalam kitab “al-Ba‘its ‘ala Inkar
al-Bida‘ wal-Hawadits” (hal. 114):
(فَإِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا حَضَرَتْهُ نِيَّةً، فَقَعَدَ، فَدَعَا
وَكَذَلِكَ الْحَسَنُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِجَمْعِيَّةٍ،
وَمُضَاهَاةٍ لأَهْلِ عَرَفَةَ، وَإِيهَامٍ لِلْعَوَامِ أَنَّ هَذَا شَعَارٌ مِنْ
شُعَائِرِ الدِّينِ، وَالْمُنْكَرُ إنَّمَا هُوَ مَا اتَّصَفَ بِذَلِكَ، وَاللَّهُ
أَعْلَمُ، عَلَى أَنَّ تَعْرِيفَ ابْنِ عَبَّاسٍ قَدْ صَارَ عَلَى صُورَةٍ أُخْرَى
غَيْرَ مُسْتَنْكَرَةٍ،
ذَكَرَ أَبُو مُحَمَّدٍ ابْنُ قُتَيْبَةَ فِي غَرِيبِهِ قَالَ فِي
حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ الْحَسَنَ ذَكَرَهُ، فَقَالَ: كَانَ أَوَّلَ مَنْ
عَرَّفَ بِالْبَصْرَةِ، صَعِدَ الْمِنْبَرَ، فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ وَآلَ
عِمْرَانَ، وَفَسَّرَهُمَا حَرْفًا حَرْفًا،
فَتَعْرِيفُ ابْنِ عَبَّاسٍ كَانَ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ، فَسَّرَ
لِلنَّاسِ الْقُرْآنَ، فَإِنَّمَا اجْتَمَعُوا لِاِسْتِمَاعِ الْعِلْمِ، وَكَانَ
ذَلِكَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَقِيلَ: عَرَّفَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالْبَصْرَةِ،
لِاجْتِمَاعِ النَّاسِ لَهُ كَاجْتِمَاعِهِمْ بِالْمَوْقِفِ).
“ Sesungguhnya
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu tiba-tiba timbul dalam dirinya punya niat, lalu
dia duduk-duduk, dan dia berdoa “.
Begitu pula yang di lakukan oleh al-Hasan al-Bashry, beliau
tanpa ada maksud untuk mengadakan acara kumpul-kumpul atau bikin tandingan
terhadap orang-orang yang wuquf di padang Arafah atau mengelabui rakyat jelata
bahwa ini adalah syiar dari syiar-syiar agama. Dan justru yang diingkarinya itu
adalah apa yang diwarnai dengan hal-hal itu, dan Allah swt lebih tahu bahwa
at-Ta’rif yang dilakukan Ibnu Abbas telah menjadi bentuk lain yang tidak bisa
lagi di sangkal “.
Abu Muhammad Ibnu Qutaybah menyebutkan dalam kitab
“Ghoriib” nya, dia berkata tentang hadits Ibnu Abbas bahwa Al-Hassan
menyebutkannya, lalu dia berkata: “ Dia adalah orang pertama yang melakukan
at-Ta’rif di Basrah, beliau naik ke mimbar, dan membaca surat al-Baqarah dan
suarat ‘Aali Imran, dan menafsirkannya huruf demi huruf,
Jadi at-Ta’rif yang dilakukan oleh Ibnu Abbas itu seperti
ini, yaitu beliau menyampaikan kepada orang-orang tafsir Al-Qur'an, mereka
berkumpul hanya untuk mendengarkan ilmu, dan itu terjadi pada waktu sore hari
Arafah.
Lalu tiba-tiba ada yang mengatakan bahwa At-Ta’rif yang
dilakukan Ibnu Abbas di Basrah adalah mengajak orang-orang agar berkumpul
untuknya seperti kumpulnya mereka di tempat wukuf padang Arafah). (SELESAI
PERKATAAN ABU SYAAMAH)
Dan Abd al-Razzaq meriwayatkan di “al-Musannaf” (4/377),
dan Ibnu Sa'ad di “al-Tabaq al-Kubra” (2/367) dengan SANAD YANG SHAHIH ke
al-Hasan al-Basri yang berkata:
(أَوَّلَ مَنْ عَرَّفَ بِأَرْضِنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، كَانَ يَتَّعَدُّ
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ الْبَقَرَةَ يُفَسِّرُهَا آيَةً آيَةً)
(Orang pertama yang
melakukan at-Ta’rif di bumi kami adalah Ibnu Abbas, biasanya dilakukan pada
waktu sore hari Arafah, maka dia membaca Al-Qur'an, surat al-Baqarah,
menafsirkannya ayat demi ayat),
====
DALIL KE DUA:
Ibadah At-Ta’rif ini tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ. Bahkan di masa Kholifah Abu Bakar, Umar
bin al-Khothob dan Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu belum ada.
Mulai adanya pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan beliau sendiri dalam
riwayat Imam Al-Bukhari dalam “at-Tarikh al-Kabiir” (2/301) dengan sanadnya
dari Muhammad Ibnu Al-Hanafiyyah, dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata:
(لَا عَرَفَةَ إِلَّا بِعَرَفَاتِ)
“ Tidak ada acara
arafahan kecuali di padang Arafah “.
===
DALIL KETIGA:
Ada kaedah fikih yang
cukup ma’ruf di kalangan para ulama
الأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ التَّحْرِيمُ.
“Hukum asal ibadah adalah
haram (sampai adanya dalil)”
(Baca: Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil
Fiqhiyyah, hal. 90).
Dalil Kaedah :
Di antara dalil kaedah adalah firman Allah Ta’ala,
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ
يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai
sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak
diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuraa: 21).
Juga didukung dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat
suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara
tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718). Dalam riwayat
lain disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan
suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR.
Muslim no. 1718).
Begitu pula dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah disebutkan
bahwa Nabi ﷺ bersabda,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Hati-hatilah dengan
perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah
bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no.
2676, An Nasa-i no. 46. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa kita baru bisa
melaksanakan suatu ibadah jika ada dalilnya, serta tidak boleh kita merekayasa
suatu ibadah tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya.
****
PERNYATAAN PARA ULAMA TENTANG KAIDAH MASALAH INI
Para Ulama Madzhab Syafi’i berkata mengenai kaedah yang
kita kaji ini,
اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف
“Hukum asal ibadah adalah
tawaqquf (diam sampai datang dalil).”
Perkataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul
Bari (5: 43). Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi
rujukan.
Perkataan Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak
ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan.
Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang
memerintahkan.
Di tempat lain, Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata,
أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف
“Penetapan ibadah diambil
dari tawqif (adanya dalil)” (Fathul Bari, 2/ 80).
Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’i juga
berkata,
لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ،
وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ
“Umumnya ibadah adalah
ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”.
Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil
Ahkam.
Dalam buku ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul
Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan disebutkan,
الأَصْلِ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ.
“Hukum asal ibadah adalah
tawqif (menunggu sampai adanya dalil).”
Ibnu Muflih berkata dalam Al Adabu Asy Syar’iyah,
أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ
سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى
التَّوْقِيفِ
“Sesungguhnya amal
diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah
disyari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan sampai ada dalil.”
Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits -Imam Syafi’i
termasuk di dalamnya- berkata,
إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ
“Hukum asal ibadah adalah
tauqif (menunggu sampai adanya dalil)” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya
Ibnu Taimiyah, 29/17)
Ibnu Taimiyah lebih memperjelas kaedah untuk membedakan
ibadah dan non-ibadah. Beliau rahimahullah berkata,
إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ فَلَا يُشْرَعُ
مِنْهَا إلَّا مَا شَرَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى. وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى
قَوْلِهِ: { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ
يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ }. وَالْعَادَاتُ الْأَصْلُ فِيهَا الْعَفْوُ فَلَا
يَحْظُرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَرَّمَهُ وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ: {
قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ
حَرَامًا وَحَلَالًا } وَلِهَذَا ذَمَّ اللَّهُ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ شَرَعُوا
مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَحَرَّمُوا مَا لَمْ يُحَرِّمْهُ
“Hukum asal ibadah adalah
tawqifiyah (dilaksanakan jika ada dalil). Ibadah tidaklah diperintahkan sampai
ada perintah dari Allah. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang
artinya),
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah
yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy
Syura: 21).
Sedangkan perkara adat (non-ibadah), hukum asalnya adalah
dimaafkan, maka tidaklah ada larangan untuk dilakukan sampai datang dalil
larangan. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya),
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang
diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan
(sebagiannya) halal” (QS. Yunus: 59).
Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang
membuat syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan yang tidak
diharamkan. (Majmu’ Al Fatawa, 29/17)
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Selesai di tulis pd hari
Selasa malam Rabu tgl 17 – Nov – 2020
CILAMAYA WETAN, KARAWANG, JABAR
Abu Haitsam Fakhry
0 Komentar